Prie GS mengawali kariernya sebagai wartawan
di Harian Suara Merdeka Semarang. Tetapi seniman dan budayawan itulah sebutan
yang kini melekat kepadanya. Ia pernah memperdalam piano dan gitar klasik.
‘’Musik bukan jalan hidup saya,’’ katanya. Hingga kini ia masih menjadi
kartunis dan pernah pamaren di Tokyo Jepang atas undangan The Japan Foundation.
‘’Kartun menjadi rekreasi yang sehat untuk mental saya,’’ katanya. Di Jepang ia
sempat berdiskusi satu meja dengan para komikus dan animator top negeri itu.
Menjadi pengamat itulah akhirnya keasyikan
orang ini. ‘’Mengamati apa saja. Paling asyik adalah mengamati segenap kelucuan
di Indonesia,’’ katanya. Pekerjaan yang kurang jelas itulah akhirnya yang
memberi atribut budayawan kepadanya. ‘’Jadi kalau pekerjaan Anda tidak jelas,
sebut saja sebagai budayawan,’’ tambahnya sambil tergelak.
Dengan atribut itulah, Prie GS bisa masuk ke
segenap wilayah dengan gayanya sendiri. Ia bisa berceramah dengan gembira di
depan anak-anak jalanan hingga tampil di hotel-hotel berbintang. Ia pernah
diundang oleh FX Hadi Tjokrosusillo dan James Gwee untuk bicara di tengah
sekitar pengusaha top Jakarta, diundang ke Mabes Angkatan Laut Cilangkap untuk
memberi refleksi sosial di hadapan para jenderal dan para perwira Angkatan
Laut. Berbagai institusi besar pernah disambanginya antara lain PT Indofood, PT
Telkom, PT Coca-Cola, Indonesai Power, Bank Indonesia, PT PLN, PT Telkomsel,
aneka bank, asuransi dll. Ia kini sibuk sebagai pembicara di seminar lintas
tema mulai dari politik, kebudayaan, sosial hingga bisnis. ‘’Itulah kenapa saya
disebut sebagai budayawan, Ngomong apa saja boleh!’’ katanya. Humor memang soal
yang terpisahkan dari tokoh ini. Merenung sambil berhumor itulah yang mewarnai
seluruh seminarnya.
Ia lebih suka menyebut kontribusinya itu
sebagai refleksi. Refleksi Bersama Prie GS adalah talkshow-nya di SmartFM yang
disiarkan di 11 kota di Indonesia setiap jumat malan pukul 119.00 WIB, sebuah
talkshow yang oleh pendengarnya disebut sangat mengoda. Untuk itulah sebutan
Penggoda Indonesia disematkan kepadanya. Di dalam refleksinya Prie GS bisa
bicara apa saja secara mengejutkan untuk soal-soal yang sering banyak kita
lupa. Karyanya, Sketsa Indonesia, menggemparkan dunia karikatur radio di
Indonesia. Sebuah karya yang membuat hampir seluruh televisi di Indonesia
meliriknya, tetapi hingga saat ini belum dilepasnya. ‘’Ia sangat radio. Biarlah
ia cuma milik radio,’’ kata Prie GS. Kini ia menetap di kota yang amat
dicintainya, Semarang.
|