| Produk Prie GS |

 Ingin memiliki buku diatas? Hubungi: team@priegs.com
|
| Gallery |
 PrieGS Iklan Event di Balikpapan |
| Who's Online ? |
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 3
Tidak ada Anggota Online.
Online Hari ini : 39
Online Bulan ini : 1164
Total Hits : 107064 |
|
|
|
|
| Berita /
Serambi |
|
| Hidup Lebih Lama dengan Oscar | | Oleh priegs |
| Jumat, 27-Maret-2009, 10:01:44 |
711 klik |
 |
 |
|
|
| Oscar tahun ini ditantadai dengan penayangan sederet tokoh penerima Oscar yang
bercerita tentang perasaan mereka saat piala itu mereka terima. "Seluruh darah
seperti berkumpul di kepala," kata salah satunya "Seperti ada tumpukan barang
yang jatuh menimpa kita," kata yang lainnya. Tapi yang terpenting dari itu semua
ialah, bahwa penelitian mengatakan, rata-rata pemenang Oscar kedapatan hidup
lebih lama dibanding dengan pihak yang kalah. |
|
|
Maka marilah melihat kenapa
orang-orang kalah itu mati lebih cepat. Tak usah diteliti, cukup dilihat lewat
kenyataan sehari-hari saja. Pertama, orang yang gagal dan kalah itu cenderung
mengkerut mukanya. Mereka punya kebiasaan memandang dunia sekitarnya sebagai
sumber masalah. Jika tetanggga naik pangkat atau membeli kulkas baru, ia segera
menduga-duga korupsi apalagi yang dilakukan tetangga sebelah
ini.
Sementara si tetangga makin naik ke jenjang tinggi dan semakin punya
banyak barang, si kalah ini makin sibuk menanam prasangka. Inilah pekerjaan
utama dan pekerjaan lain menjadi sambilan belaka, walau itu adalah pekerjaan
utamanya. Hari-harinya dipenuhi oleh hasut dan dengki. Hidupnya tepanggang oleh
kemarahan yang tidak jelas asal-usulnya. Perasaanya serba peka. Peka untuk
dibakar masalah. Uring-uringan adalah hiburannya. Karena hanya dengan
uring-uringan si kalah ini merasa aktual dan berhasil mendapat perhatian
lingkungannya.
Cara orang ini mencari perhatian memang khas, tidak dengan
bekarja tapi dengan membuat masalah. Padahal alam terus tak kenal lelah dalam
memproduksi orang-orang yang bergerak maju, yang bergiat menyelesaikan
kewajiban-kewajiban hidup, tanpa mempertimbangkan apakah langkah ini akan makin
membuat marah orang-orang yang kalah.
Padahal makin banyak manusia
bergerak maju, akan makin jauh si kalah ini tertingal. Padahal makin jauh
tertinggal, akan makin menyulut kadar kemarahnnya. Padahal kemarahan inilah yang
akan membakarnya, menguras energinya dan menyisakan sedikit hal saja dan itu pun
cuma berupa masalah.
Sementara lihatlah si pemenang itu. Semakin ia
menang, semakin ia mendapatkan energi untuk bergerak maju. Padahal setiap gerak
maju akan membawa akibat baru, kemenangan baru. Satu kemenangan akan melahirkan
kemenangan yang lain. Dan kemenangan itu akan beranak pinak dalam jumlah yang
tak pernah diduga sebelumnya.
Karena senang menyanyi, Inul pun tampil di
panggung. Karena tampil di panggung ia pun sering diundang manggung. Karena
sering diundang manggung dia pun laris. Karena laris dia pun berkembang. Dari
cuma sekadar menemukan gerak senam akhirnya ia menemukan gerak
ngebor.
Karena ada istilah goyang bor lalu muncul ratu goyang, goyang
nyetrum, goyang ngecor dan sebentar lagi nanti pasti akan muncul goyang ngelas.
Hanya gara-gara satu kata bor saja terkloning banyak kata baru, rezeki baru dan
lapangan kerja baru.
Saya tidak tahu apakah untuk satu pengkloningan ini,
Inul juga akan mendapat pahala yang di dalam bahasa agama saya di sebuat amal
jariyah itu, amal yang bahkan ketika pemiliknya mati, si amal masih terus
bekerja untuk kebaikannya. Jika ini terjadi, betapa besar lalu pahala untuk
Inul. Karena betapa panjang daftar rezeki yang dia bawa untuk orang lain,
termasuk utuk para pembajak VCD-nya itu.
Jadi orang-orang yang makin
meninggi dengan kemenangannya ini, pasti terhindar dari sikap hasut dan dengki.
Bukan karena ia sudah terbebas dari perasaan itu, melainkan karena ia tak lagi
punya waktu. Padahal makin si menang tak punya waktu, si kalah malah makin
mengumpulkan waktunya hanya untuk mengawasi kemenangan orang lain itu. Ia bahkan
bisa terbakar dan mati hangus oleh kecemburuannya sendiri tanpa orang yang
dibencinya itu tahu.
Sementara si pemenang ini, kerena kemenangannya,
cenderung makin jadi pemberi, penderma dan penolong (karena itu bertambah
lagilah daftar kebaikannya), si kalah ini malah makin sibuk menyusun skenario
dugaan dan prasangka. "Ia pasti sedang meggalang massa. Itu derma politis.
Memberi sedikit untuk bisa mengambil banyak. Dasar bunglon, penjarah!" serapah
si kalah dalam kebenciannya.
Maka makin payahlah keadaan si kalah ini
terbenam dalam timbunan masalah dan makinlah ia butuh pertolonggan. Tapi dasar
bakatnya kalah, di tolong pun ia merasa dihina.
(PrieGS/) |
| |
| Ada 1 komentar tentang artikel ini : | riza @222.124.3.12 berkomentar, Selasa, 23-Februari-2010, 20:31:50 hore..
hore..
pergi kamu sana orang kalah..
tak ada yg butuh kamu...
begitupun aku.. | |
Tulis Komentar Anda di sini...
|