Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Foto bersama dengan Andrie Wongso dkk
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 3

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 62
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106283
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Serambi
Shuttlecock di Atas Genting
Oleh priegs
Jumat, 27-Maret-2009, 10:03:07 935 klik Send this story to a friend Printable Version
MASJID depan rumahku itu menyisakan banyak fungsi selain fungsi utamanya sebagai tempat ibadah: salah satunya, tempat aku nebeng main bulutangkis dengan anak lelakiku di luas halamannya. Masih 9 tahun umurnya, masih belum kokoh raket di tangannya. Tidak jelas sebetulnya siapa menemani siapa: anak menemani bapaknya, atau bapak menemani anaknya. Karena diam-diam, akulah yang jauh lebih membutuhkan permainan ini demi sebuah alasan. Tubuhku butuh bergerak di tengah seluruh pekerjaan yang hanya habis di tempat duduk. Salah satu gerakan yang paling tidak berisiko untuk amatiran sepertiku adalah bertanding bulutangkis dengan anak-anak, itupun cukup anakku sendiri.
Ada beberapa keuntungan yang telah kupertimbangan bermain dengan anak sendiri: kalau aku jengkel, ia bisa kumarahi, kalau aku masih ingin, ia bisa aku bujuk (tepatnya kutekan) agar tidak keburu berhenti, karena dia masih lugu, juga mudah saja kucurangi. Dan yang terpenting: hanya dengan pura-pura menemani anak bermain, aku bisa memperagakan tingkah kekanakan tanpa takut ditertawai. Jadi, baik lewat pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, akulah yang lebih butuh ditemani katimbang menemani. Dalam bahasa aktivis, anakku adalah korban tekanan dalam rumah tangga.

Tetapi alam ini adil belaka. Seorang koruptor jika sudah keterlaluan, akan muntah dengan sendirinya. Yang berskala besar dan tak terjangkau oleh hukum akan diurus sendiri oleh alam raya. Tapi jika ia sekadar pemula dan pribadi yang sedang apes, minimal akan tertangkap basah oleh KPK. Pendek kata, ada jenis hukum yang sudah tidak perlu dikontrol, sudah otomatis akan bekerja.

Begitu juga dengan kelakuanku pada anakku ini. Meminta ditemani dengan pura-pura menemani adalah sebuah niat yang bukan cuma tidak tulus tapi juga jahat. Dan korban kejahatan itu anak sendiri pula. Anak itu pun masih demikian muda umurnya. Sekecil itu sudah menanggung kejahatan yang bertumpuk-tumpuk begini, pasti derita yang mendatangkan karma bagi penjahatnya. Maka karma itu pun datang, saat itu juga. Buktinya: setiap anakku itu memukul shuttlecock-nya, arahnya melenceng senantiasa.

Tangan kecil itu memang masih terbata-bata berkoordinasi dengan akalnya. Akalnya ke sini, bolanya ke sana. Bola bulu itu sama sekali tak pernah mengarah ke hadapanku. Maka jadilah aku bukan bermain bulu tangkis tetapi sekadar menjadi tukang pungut bola. Setiap aku marah, anakku malah tertawa gembira. Setiap ia kuajari untuk memukul lurus, tapi jatuhnya melenceng juga, ia malah geli sendiri dengan ulahnya.

Tapi namanya juga anak, adalah tugasku untuk terus membimbingnya tanpa putus asa. Kuluruskan tangannya, kubenarkan pukulannya. Pada kecepatan lambat ia mengerti maksudku, tetapi ketika ia kembali pada kecepatannya sendiri, bola itu melenceng lagi. Hebatnya, ada jenis pemelencengan yang sempurna: bola itu langsung melambung ke genting masjid kami. Karena mustahil mengurusnya kami terpaksa berganti bola. Dan bola pengganti itu lagi-lagi bersemayam di atap yang sama. Maka yang kuperoleh dari tipu daya pada anak ini bukan kegembiraan seperti yang aku bayangkan, tetapi benar-benar sebuah kemarahan.

Sudah tiga bola bersarang di atap sana. Untuk ukuran permainan yang kurang bermutu ini, ongkosnya sudah terlalu tinggi. Maka bola ke empat aku membuat perjanjian; ??Jika pukulanmu masih menceng, kita berhenti!??.

Singkat kata perjanjian ini disepakti. Melihat gaya bapaknya, anakku mengerti bahwa kemarahanku mulai nyata. Kembali ia melakukan servis. Ini servis penentuan. Mukanya serius dan tangannya mengejang karena ketegangan. Melihat usaha ini, sebagai orang tua, hampir saja mataku berkaca-kaca. Anak itu mengerti bahwa nasibnya sangat ditentukan oleh servis terakhirnya. Bukan cuma dia yang tegang, aku pun dilanda soal serupa. Tapi jika ketegangan ini ada hasilnya, aku sudah siap memeluknya sebagai kegembiraan. Betapapun anak itu telah menjad korban tekanan. Tapi belum rampung rasa haru ini menempati seluruh ruang, bola telah melambung lagi dan? melenceng lagi. Kami pulang serempak, saling diam, beku dan membisu.

Di esok hari, ketika anak ini sudah sekolah, rumaku sepi. Cuma shuttlecock di atas genting itu yang berhasil kupandangi. Wajah anakku berpendaran. Wajah anak yang kubayangkan sebagai sedang murung dan menuding ke muka bapaknnya sebagai orang tua yang rakus dalam berebut kegembiraan bahkan dengan anaknya sendiri.

(Prie GS/cn05)
 
Berita Serambi Lainnya
.Menggembosi Amarah
.Menguras Bak Mandi
.Istri Sakit
.Lulus Seratus Persen
.Kucing Kawin
.Bekerja itu Sakit
.Jam Terbang
.Memotong Rumput
.Perjuangan Untuk Bergembira
.Anak Saya Kalah Lomba

Komentar ...
Ada 4 komentar tentang artikel ini :

eka bamba s @125.162.114.132 berkomentar,
Sabtu, 08-Mei-2010, 08:00:57
jangan dijadiin objek tuh anak, hanya karna emosi bapaknya....awas ketahuan komisi anak mas prie bisa dirundung kemalangan nanti....

suharno @203.130.209.9 berkomentar,
Kamis, 01-April-2010, 13:17:52
Betul mas Prie, kadang saya nawarin jagoan saya untuk dikelonin ( padahal saya yang mau ngelonin ) ha ha ha ha ............

rangga jumadi @125.161.52.216 berkomentar,
Selasa, 16-Maret-2010, 18:51:49
Dh,

Pak prie tanggal 15 maret 2010,saya toton acara pak prie ditv 3 motivator dan saya menajukan pertanyaan 1).apa benar 80%orang lebih banyak bicara sendiri didalam dirinya,sedangak 20% berbicara pada orang lain tapi saya mendapat jawaban yang kurang greget.sukes terus sang penggoda...

widoyo @125.161.153.170 berkomentar,
Senin, 01-Maret-2010, 17:33:01
kita senasib mas pri, aku tiap pagi juga jadi korban kekanakan jagoanku, tidak hanya bulu tangkis tapi juga bola dan karate...:) jadi bahan tinjuan :)....
good job mas pri , hebat tenan tulisannya sederhana menggelitik dan wuih gurih....:)

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS