Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Foto bersama dengan Andrie Wongso dkk
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 4

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 39
Online Bulan ini : 1164
Total Hits : 107069
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Serambi
Syarat Seorang Penipu
Oleh priegs
Sabtu, 23-Mei-2009, 08:32:19 1044 klik Send this story to a friend Printable Version
Seorang teman mengeluh tentang teman baiknya yang tega menipu. "Bukan cuma apa yang ditipu, tetapi siapa yang menipu, itulah yang menyakitkan hatiku," kata si teman ini.
Aku tak hendak meyangkal pernyataannya. Pertama, tak baik pihak sedang menderita bukan mendapat bantuan, tetapi malah mendapat penyangkalan. Kedua, semakin dekat seseorang dengan kita, akan menjadi penuh harapan kita kepadanya. Itulah kenapa ditipu teman dekat, dua kali lipat kesakitannya. Karena menjadi selalu baik dan selalu dipercaya, itulah harapan kita kepada teman dekat. Menjadi semakin dekat, semakin banyak syarat yang kita tetapkan kepadanya. Maka ketika ia semakin dekat tapi semakin tidak bisa dipercaya, adalah kesakitan ekstra.

Tapi aku tergoda dengan kata "tapi" yang jamak menjadi kebiasaan hampir seluruhnya dari kita ketika tengah berhadapan dengan persoalan tertentu. Misalnya jika kita adalah pihak bermasalah dan butuh nasihat. Contohnya begini: kamu ngerti perbuatanmu itu sesat. Maka bertobatlah. Percayalah, sembilan dari sepuluh peminta nasihat cenderung akan menutupnya dengan kata: tapi.

Ada yang: tapi kan tidak mudah untuk bertobat begitu saja. Ada yang: tapi butuh waktu dong. Ada yang: sudah kucoba, tapi gagal melulu. Begitu juga dengan teman yang sedang tertipu ini. Kata "tapi" tampak menjadi persoalan tebesarnya. Kata itu jauh lebih membuatnya menderita, katimbang perasaan kehilangan sesuatu hasil dari tertipu. "Tapi kan dia teman dekatku. Sudah seperti keluargaku," begitulah fokusnya terus menuju.

Jadi betapa kata "tapi" itu adalah biang persoalan besar dalam hidup. Baiklah aku jelaskan urut-urutannya: tertipu dan kehilangan itu jelas sudah pendertaan. Tapi tenyata kita merasa tidak cukup menderita dan butuh menambahnya dengan menu ekstra, yakni karena teman baik itulah penipunya. Semua ini gara-gara ada banyak syarat yang kita tetapkan atas segala sesuatu, termasuk kepada para teman baik, teman dekat dan kepada para penipu itu.

Kepada teman dekat itu misalnya, kita tetapkan syarat bahwa yang dekat itu selalu harus baik, terpercaya, dan tidak boleh menipu. Padahal kedekatan dan kepercayaan itu sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagaimana mungkin dua soal yang berbeda harus dipaksa untuk menjadi sama dan satu. Pemaksaan itulah yang mendatangkan bermacam-macam persoalan dalam hidup. Maka jika rumusnya diubah: bahwa orang dekat juga boleh menipu, bahwa teman baik juga boleh menjadi buruk, bahwa kebaikan juga boleh dibalas keburukan, berbeda pula perasaan kita kepadanya.

Kata boleh ini kalau tidak hati-hati, juga akan mendatangkan kata "tapi" lagi. Misalnya: tapi kan kejam sekali sudah diberi kebaikan malah membalas keburukan. Iya sih, tapi kan boleh, karenanya ternyata itu semua bisa terjadi. Lalu siapa yang memperbolehkan, ya hukum kemungkinan itu sendiri.

Kepada sesuatu yang mungkin, manusia hanya bisa diberi ruang untuk kompromi. Tersedia berbagai bentuk pilihan kompromi, mulai dari yang rendah dan murah, hingga yang mahal dan tinggi. Tergantung selera dan kemampuan Anda. Boleh menderita sambil ngomel dn mengutuk kanan-kiri, boleh pula menderita sambil tetap menyalami tamu-tamu seperti biasa sambil ngobrol seolah tak pernah terjadi apa-apa. Sesuatu yang mungkin terjadi akan tetap terjadi jika memang harus terjadi, lepas apakah kita menolak atau menyetujui!
 
Berita Serambi Lainnya
.Menggembosi Amarah
.Menguras Bak Mandi
.Istri Sakit
.Lulus Seratus Persen
.Kucing Kawin
.Bekerja itu Sakit
.Jam Terbang
.Memotong Rumput
.Perjuangan Untuk Bergembira
.Anak Saya Kalah Lomba

Komentar ...
Ada 3 komentar tentang artikel ini :

ulin @118.96.136.166 berkomentar,
Rabu, 03-Februari-2010, 23:04:40
saya juga pernah ditipu sama teman sendiri (teman sejak kecil) tapi ketika pengalaman itu saya tulis di blog saya kok jadinya gak bisa seperti tulisannya mas prie ya.....

bouzt_fuad @118.97.9.12 berkomentar,
Rabu, 25-Nopember-2009, 16:46:18
heubat.. artikelnya begitu mendalam.. tiap kata mengandung makna yang begitu berarti.. semoga memberi manfaat utk diriku utamanya dan pembaca lainnya khususnya... amin

capung @222.124.162.140 berkomentar,
Senin, 26-Oktober-2009, 09:10:39
g' pernah bosen baca artikel pak prie.,penuh inspiratif,dekat dengankehidupan kita...........ditunggu artikel selanjutnya

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS