Kemalangan
berikutnya, lagu itu disimpan di komputer bapaknya. Kemalangan
berikutnya lagi, ia selalu tergerak memutar lagu itu tepat ketika saya
hendak menghidupkan komputer dan siap mengetik. "Nunut sejenak,"
katanya. Lalu tangannya terampil menjelajah di mana lagu itu disimpan,
mengeraskannya dan menyiksa bapaknya. Kemalangan terakhir ialah ketika
saya harus mendengar lagu anak saya dari jenis yang asing, yang tidak
saya sukai, tetapi harus saya dengar setiap kali.
Semula
saya hampir menghentikan gangguan ini dengan kekuasaan saya sebagai
orang tua. Tapi sebelum niat ini saya laksanakan ada sebuah lagu, yang
karena begitu sering saya mendengarnya, menjadi pelan-pelan akrab di
telinga.
Semula saya juga tak perlu
menghafal judul dan siapa penyanyinya, karena jangankan band anak-anak
muda asing, band negeri sendiri pun tak mungkin lagi saya hafali karena
rasanya band baru selalu muncul tiap hari. Yang saya tahu, jika rambut
anak muda itu lurus dan miring hingga menutup sebelah mata, naa itu
pasti anak band, itu saja.
Tetapi lagu yang
satu ini terpaksa saya hafal: Dear God judulnya, Evenged Sevenfold nama
kelompoknya. Babak akhir inilah inti ceritanya: karena mulai menyukai
lagu ini, saya pun setiap kali tergerak untuk ikut-ikutan menyanyi.
Tetapi setiap saya mulai menyanyi, anak saya selalu meledak dalam tawa.
"Stop... stop! Berhenti!" begitu teriaknya.
"Ada apa?" tanya saya.
"Karena Bapak nyanyi lagunya Evenged Sevenfold, tapi logatnya mirip Rhoma Irama!"
Sisi rumah meledak dalam gelak tawa.
Tawa
itu membuat saya merenung. Kenapa ya, sekeras apapun usaha saya meniru
anak-anak muda itu menyanyi, logat saya tetap saya jatuh ke cengkok
Rhoma Irama atau Didi Kempot misalnya, musik yang memang seinduk dengan
budaya saya. Sebuah kedekatan yang kemudian jelas akibatnya: sepersis
apapun saya meniru Evenged Sevenfold, kepada Rhoma Irama pula saya
berlabuh.
Ini sungguh bukan bencana, kecuali
kalau kita sedang mempercayai rasisme budaya, bahwa yang satu lebih
rendah dari yang lain. Rasisme semacam inilah yang pelan-pelan harus
saya hilangkan, setidaknya dari konflik batin saya sendiri. Itulah
kenapa saya senang sekali melihat Hermawan Kertadjaya berbahasa Inggris
dengan percaya diri, tetapi dengan logat Surabaya.
Saya
juga senang sekali dengan rencana kelompok Slank yang ingin membuat
album berbahasa Inggris dengan logat Inggris yang Indonesia banget.
Darimana
ilhamnya? Dari orang-orang Jamaica, yang betapapun mereka sedang bicara
dalam bahasa Ingris, langsung tetangkap dari mana asal mereka. Logat
itulah yang kemudian saya dengar telah menjadi logat salah satuh tokoh
kartun di film Madagaskar kesukaan anak-anak saya. Lucu, unik, eksotik,
asyik.
Apakah ini berarti orang-orang Amerika
yang mengangkat martabat logat ini ke negeri mereka? Tak sepenuhnya.
Ini pasti juga karena orang Jamaica itu sendiri yang ogah merubah
logatnya. Saya menyukai semangat ini. Sekarang ini, saya malah sedang
ingin memperdalam bahasa Inggris tapi dalam logat kampung saya. Lalu
saya bayangkan Inggris Kampung saya itu akan setara dengan rumah
kampung, ayam kampung, yang kini naik harganya justru karena nilai
kampungnya.
Sekali lagi, ini bukan soal
apakah kampung lebih hebat dari kota dan sebaliknya, tapi menyangkut
soal: bahwa kota yang hebat itu ada, kampung yang hebat itu juga ada.
Keduanya, tak perlu dipertukarkan. Itu saja. |