| Kucing ini tampaknya tahu dirinya dimanja sehingga mendorongnya
bertingkah melebihi batas yang kami izinkan kepadanya. Tempat tidur yang
amat ia gemari adalah tempat yang paling terlarang untuk ia tiduri,
yakni kamar tidur keluarga. Sesekali ia melanggar, kami maafkan dengan
cara memindahkan ke tempat yang telah disepakati. Tetapi di malam hari
ia suka mendorong-dorong pintu dan senantiasa berulah agar dizinkan
masuk lagi. Ketika kami tegas untuk menolaknya ia tak henti-henti
berisik menggaruk-garukkan kukunya.
Melihat kenekatan kucing ini akhirnya kami tak berdaya. Dari yang
semula jengkel akhirnya geli saja. Karena begitu pintu kamar telah
dibuka, ia langsung menuju kasur favoritnya dan terlelap dengan
sempurna. Kucing ini juga tahu jika kamar itu sudah dibersihkan, diganti
sprei dan sarung bantalnya, ia adalah pihak yang selalu ingin menjadi
penidur pertama. Seluruh pelanggaran kucing ini
pelan-pelan malah menjadi sumber kegelian keatimbang sumber kemarahan.
Begitulah kelemahan kasih sayang. Bagi pihak yang dicintai, kesalahan
yang dia perbuat malah menjadi seni. Mengamati gaya tidur kucing ini pun
kami dibuat tertawa setiap kali.Kadang-kadang terlentang dengan kaki
depan ke lurus ke atas, kaki bawah lurus ke bawah. ''Mirip tidurmu,''
kata istri. Bayangkan, tidur kucing ini malah mengilhami istri menghina
seperti ini.
Tidur yang berubah-ubah itu saja sudah membuat anak-anak gatal
memotreti. Dari gaya telentang, begitu diguyur kilatan lampu blits bisa
ganti posisi dengan satu kaki menutup matanya. Silau itu pasti. Pendek
kata, seluruh perilaku kucing ini, sampai kolom ini ditulis telah
menjadi sumber kegembiraan kami. Kecuali... ya kecuali ketika musim
kawinnya sudah tiba.
Ketika masa birahi itu datang, mulailah rumah kami dilanda kekacauan
siang malam. Entah dari mana datangnya, tiga-empat kucing pejantan bisa
datang secara bersamaan. Semuanya adalah kucing liar dan berangasan yang
menurut bahasa anak kami sebetulnya tidak sepadan pacaran dengan kucing
cantik kami. ''Tidak level,'' tegas anak lelaki saya. Tetapi
birahi itu memang bebas kasta, para pejantan ini berebut untuk pacaran
dan selalu saling serang dengan ganasnya. Ke mana kucing kami pergi
mereka selalu membuntuti. Siang malam, sampai masa birahi itu berhenti
dan ini bisa memakan waktu berhari-hari. Sungguh situasi yang tidak
mudah. Pertama kami harus mendamaikan keadaan kami sendiri karena
gangguan ini. Kepada kucing ini, kami tidak boleh cuma berhak atas
kelucuannya, tetapi juga harus rela kepada kebutuhan hidupnya, kawin
itulah salah satunya.
Setelah kami berdamai pada diri sendiri, kami harus berdamai dengan
tetangga, sekuat yang kami bisa karena mereka pasti paham, kamilah
sumber huru-hara ini. Mungkin karena kami dianggap tetangga yang baik,
mereka mencoba memahami. Jadi, kebaikan itulah kuncinya. Kedatangan
kucing ini, sungguh mendorong kami harus baik senantisa, agar ketika
masa perkawinannya tiba, para tetangga itu memaafkan kami. Sumber
berbuat baik itu, ternyata bisa datang dari apa saja. Termasuk dari
perkawinan kucing. (Prie GS/bnol)
|