Aku menyangka kesedihan itu bersumber dari perpisahan kami dari
kenangan: dari sekolah, guru-guru, teman-teman, dan penjaga. Soal-soal
yang semula biasa-biasa saja, baru ketika hendak berpisah, semuanya
menjadi muncul dan berharga. Saat itu, imajinasi kesedihanku
baru sebatas menjangkau wilayah itu, tetapi tidak kini. Ada lagi agaknya
sumber kesedihanku yang pelan-pelan terbaca di saat ini. Dulu sumber
kesedihan ini tersimpan dalam, tanpa aku tahu, tetapi terus terasakan.
Terasa tapi tidak tahu, itulah yang membingungkan. Kini,
tanpa ragu aku menebak sumber kesedihan misterius itu, ia tak lain
adalah nilai matematika di ijazahku. Nilai itu cuma enam, terjelek di
antara seluruh nilaiku. Aku menyangka nilai ini muncul lantaran
kebencian guru matematikaku kepadaku. Diam-diam aku marah sekali pada
guru itu. Nilai enam ini adalah noda di ijazahku yang akan terpatri di
situ nyaris selamanya. Sekian lama aku sakit oleh nilai itu karena dan
hampir saja aku menolak untuk melihat ijasah itu. Kini aku malu
sekali pada prasangkaku. Guru itu ternyata adalah guru yang amat baik
kepadaku. Seorang guru lain diam-diam meyakinkanku, jika ukurannya
adalah hasil ujian asli, nilai matematika bukan enam, tapi empat. Angka
enam itu ternyata sudah terlalu tinggi untuk kemampuanku dan guru
itulah yang membelaku. Jika cuma mengandalkan hasil ujian, aku adalah
murid yang tidak lulus.
Itulah kenapa, meskipun aku ikut-ikutan bergembira, tetap saja ada
kesedihan tersembunyi di hatiku. Karena ternyata kelulusan itu sejatinya
bukan milikku. Itulah kenapa kebohongan itu tak bisa lenyap dari hati
walau tak ada orang yang tahu. Menikmati sesuatu yang bukan milikku
ternyata hanya kegembiraan semu.
Dan nilai ijazah palsu itu ternyata memang hanya kuat membelaku
seperti nilai aslinya, cuma empat itu sajalah, sesuai dengan
kemampuanku. Buktinya seluruh sekolah lanjutan yang kuanggap favorit,
yang kusangka sesuai dengan derajatku, semuanya menolakku. Semua sekolah
itu pasti membutuhkan nilai delapan asli untuk lulus seleksi, bukan
nilai enam itu pun palsu.
Akhirnya, satu-satunya sekolah yang mau menerimaku adalah sebuah
sekolah baru yang sedang butuh murid, yang masuk sore pulang petang
dengan gedung menginduk, itupun bobrok pula.
Tak terkira rasa rendah diriku jika harus berpapasan dengan anak-anak
yang masuk pagi. Ketika mereka pulang kami berangkat dan dari pandangan
mereka aku tahu, mereka mencibirku. Keterbalikan jadwal ini sungguh
setara rasanya dengan keterbalikkan nasibku. Tetapi beginilah memang
mestinya murid dengan nilai empat ini. Bahkan masih ada sekolah yang mau
menerimaku pun mestinya sudah sebuah anugerah.
Tapi di sekolah bobrok inilah ternyata aku menemukan teman-teman
terbaik, guru-guru terbaik, lingkungan terbaik dan banyak sekali
kebaikan lain yang tak pernah aku bayangkan. Begitu menyadari nilaiku
cuma empat, dan cuma sekolah inilah yang mau menerimaku, rasa cintaku
pada sekolah ini tumbuh pelan dan pasti.
Akhirnya seluruh usaha kupompakana agar yang empat ini menjadi
enam, tujuh dan seterusnya, sekuatku, sebisaku, yang penting aku tidak
lagi menipu. Ternyata, menyangkut soal nilai ijazah itu, yang paling
berharga bukanlah besarannya, melainkan kejujurannya. Empat yang
kuterima sebagai keaslikanku ternyata jauh lebih berguna katimbang enam
tapi palsu. (Prie GS/bnol)
|