Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Acara HUT SuaraMerdeka ke 58, bersama Ir. Budi Santoso
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 4

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 62
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106298
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Serambi
Istri Sakit
Oleh priegs
Selasa, 25-Mei-2010, 07:22:34 427 klik Send this story to a friend Printable Version
Wajah istriku pucat. Tapi memang begitulah biasanya jadi tak  apa-apa. Pokoknya baik kegembiraan maupun keluhan harus disuarakan. Jika dia diam saja, berarti keadaan baik-baik  saja. Pucat itu pasti cuma pembawaan, bukan soal yang harus dikhawatirkan.
Dugaanku keliru.

Karena ada jenis suara yang harusnya terdengar tanpa harus bersuara. Itulah tanda namanya. Seorang pakar komunikasi malah mencatat, secara rata-rata, manusia paling banyak omong pun hanya mengekspresikan perasaaannya dalam 7 persen dengan kata-kata, dan 18 persen dalam  suara (lenguhan, desis, desah, dan seterusnya). Lalu apa sisanya? Perasaan itu banyak dikatakan lewat bahasa tubuh, 55 persen angkanya. Di dalam pemilu, angka ini sering disebut sebagai kemenangan mutalk, saking besarnya.

Dalam kasus ini aku keliru membaca tanda itu. Jika aku yang cerewet saja, oleh  sebuah penelitian dianggap sedikit saja menggunakan kata-kata, apalagi istriku yang pendiam. Ia pasti memakai lebih banyak tanda. Ia mestinya sudah  berkata-kata dengan pucatnya itu. Ketika si pucat ini dibiarkan, baru ia meningkatkan dosisnya menjadi mual. Mual ini meningkat lagi menjadi pusing dan gigil demam. Tanda itu kemudian telah begitu lengkapnya sehingga ia tak perlu lagi kubaca. Aku sudah butuh panik untuk menghadapinya.

Lalu inilah urut-urutan kepanikan itu: istriku pasti kena demam berdarah yang di kampungku memang menjadi wabah. Mual itulah tanda yang paling kupercaya karena aku juga pernah diserang penyakit yang sama. Lalu kubayangkan prosedur penanganannya. Malam ini juga, jika muntahnya tidak  reda, aku harus membawanya ke rumah sakit. Masuk dulu ke poliklinik, mendaftar, menunggu, diperiksa dan mendengar apa vonisnya. Di tahap ini saja sudah tidak sederhana ongkosnya, baik ongkos perasaan, pikiran dan tenaga.

Secara tenaga, saya harus menyetir sendiri karena tengah malam tak enak rasanya minta bantuan bahkan kepada sopir  sendiri. Secara pikiran, aku harus mengalkulasi seluruh kerepotan rumah jika istri harus menginap di rumah sakit berhari-hari. Bagaimana pula nanti kalau semua kamar penuh karena jumlah orang sakit sering tidak sebanding dengan kamar rumah sakit. Jika pun semua ini sudah  teratasi, masih ada lagi beban perasaan, yakni, memandangi istri yang harus menahan kesakitan, pasti butuh ketabahan.

Malam itu, aku sungguh dicekam oleh sebuah kecemasan hebat. Kubabayangkan,  setelah malam ini soal rumah  sakit kubersekan, besok aku harus memandikan anak-anak, menyuapi, mengantarnya ke sekolah menemaninya tidur dan mengambil seluruh  urusan yang  selama ini dikerjakan itsri. Bukan saya mengeluh, tetapi itulah urusan yang pasti saya kebingungan mengerjakan karena harus mulai dari mana dan dengan cara apa.

Belum nanti jika aneka tagihan rumah tangga itu datang, beli air, bayar belanja, listrik, telepon dan  semacamnya. Belum lagi kalau urusannya merumit, misalnya harus mencari kartu asuransi, surat ini, formulir itu, kuitansi ini, yang selama ini seluruhnya  adalah daerah kekuasaan istri.

Malam itu, rumahku terasa gelap, karena gelapnya pikiranku. Padahal istri belaum benar-benar ke rumah sakit. Ia masih di rumah, dan  penyakitnya itu makin malam makin mereda, dan benar-benar reda di pagi harinya. Seluruh  kegentaranku itu, syukurlah berhenti sebagai  bayangan belaka. Tetapi bayangan itulah yang memaksaku melihat istri dengan cara berbeda. Selama ini kesehatannya, kebaikannya, pekerjaannya, sering kuanggap biasa-biasa saja karena pikirku, begitulah memang seharusnya. Itu sudah  tugasnya. Kini, tampak, bahwa semua itu bukan barang biasa. Ia adalah soal-soal  yang luar biasa yang aku terlambat melihatnya.

(Prie GS/bnol)
 
Berita Serambi Lainnya
.Menggembosi Amarah
.Menguras Bak Mandi
.Lulus Seratus Persen
.Kucing Kawin
.Bekerja itu Sakit
.Jam Terbang
.Memotong Rumput
.Perjuangan Untuk Bergembira
.Anak Saya Kalah Lomba
.Anggrek Melengkung

Komentar ...
Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS