Karena ada jenis suara yang harusnya terdengar tanpa harus bersuara.
Itulah tanda namanya. Seorang pakar komunikasi malah mencatat, secara
rata-rata, manusia paling banyak omong pun hanya mengekspresikan
perasaaannya dalam 7 persen dengan kata-kata, dan 18 persen dalam suara
(lenguhan, desis, desah, dan seterusnya). Lalu apa sisanya? Perasaan
itu banyak dikatakan lewat bahasa tubuh, 55 persen angkanya. Di dalam
pemilu, angka ini sering disebut sebagai kemenangan mutalk, saking
besarnya.
Dalam kasus ini aku keliru membaca tanda itu. Jika aku yang cerewet
saja, oleh sebuah penelitian dianggap sedikit saja menggunakan
kata-kata, apalagi istriku yang pendiam. Ia pasti memakai lebih banyak
tanda. Ia mestinya sudah berkata-kata dengan pucatnya itu. Ketika si
pucat ini dibiarkan, baru ia meningkatkan dosisnya menjadi mual. Mual
ini meningkat lagi menjadi pusing dan gigil demam. Tanda itu kemudian
telah begitu lengkapnya sehingga ia tak perlu lagi kubaca. Aku sudah
butuh panik untuk menghadapinya.
Lalu inilah urut-urutan kepanikan itu: istriku pasti kena demam
berdarah yang di kampungku memang menjadi wabah. Mual itulah tanda yang
paling kupercaya karena aku juga pernah diserang penyakit yang sama.
Lalu kubayangkan prosedur penanganannya. Malam ini juga, jika muntahnya
tidak reda, aku harus membawanya ke rumah sakit. Masuk dulu ke
poliklinik, mendaftar, menunggu, diperiksa dan mendengar apa vonisnya.
Di tahap ini saja sudah tidak sederhana ongkosnya, baik ongkos perasaan,
pikiran dan tenaga.
Secara tenaga, saya harus menyetir sendiri karena tengah malam tak
enak rasanya minta bantuan bahkan kepada sopir sendiri. Secara pikiran,
aku harus mengalkulasi seluruh kerepotan rumah jika istri harus
menginap di rumah sakit berhari-hari. Bagaimana pula nanti kalau semua
kamar penuh karena jumlah orang sakit sering tidak sebanding dengan
kamar rumah sakit. Jika pun semua ini sudah teratasi, masih ada lagi
beban perasaan, yakni, memandangi istri yang harus menahan kesakitan,
pasti butuh ketabahan.
Malam itu, aku sungguh dicekam oleh sebuah kecemasan hebat.
Kubabayangkan, setelah malam ini soal rumah sakit kubersekan, besok
aku harus memandikan anak-anak, menyuapi, mengantarnya ke sekolah
menemaninya tidur dan mengambil seluruh urusan yang selama ini
dikerjakan itsri. Bukan saya mengeluh, tetapi itulah urusan yang pasti
saya kebingungan mengerjakan karena harus mulai dari mana dan dengan
cara apa.
Belum nanti jika aneka tagihan rumah tangga itu datang, beli air,
bayar belanja, listrik, telepon dan semacamnya. Belum lagi kalau
urusannya merumit, misalnya harus mencari kartu asuransi, surat ini,
formulir itu, kuitansi ini, yang selama ini seluruhnya adalah daerah
kekuasaan istri.
Malam itu, rumahku terasa gelap, karena gelapnya pikiranku. Padahal
istri belaum benar-benar ke rumah sakit. Ia masih di rumah, dan
penyakitnya itu makin malam makin mereda, dan benar-benar reda di pagi
harinya. Seluruh kegentaranku itu, syukurlah berhenti sebagai bayangan
belaka. Tetapi bayangan itulah yang memaksaku melihat istri dengan cara
berbeda. Selama ini kesehatannya, kebaikannya, pekerjaannya, sering
kuanggap biasa-biasa saja karena pikirku, begitulah memang seharusnya.
Itu sudah tugasnya. Kini, tampak, bahwa semua itu bukan barang biasa.
Ia adalah soal-soal yang luar biasa yang aku terlambat melihatnya.
(Prie GS/bnol)
|